» » » Siapa Penipu Terbesar Dalam Sepak Bola? Carlos Kaiser jawabannya!

Siapa Penipu Terbesar Dalam Sepak Bola? Carlos Kaiser jawabannya!

Penulis By on Thursday, 22 September 2016 | No comments



Semua orang pasti setuju apa impian terbesar anak-anak di Brazil, karena mereka pasti memiki satu impian besar yaitu menjadi pemain sepak bola terkenal di dunia. Termasuk seorang anak bernama Carlos Henrique Raposo. Dibesarkan di masa Brazil usai menjuarai Piala Dunia tahun 1970, Raposo yang kemudian merubah namanya menjadi "Carlos Kaiser", memiliki mimpi jadi bintang sepak bola. Dia ingin menjadi seperti Pele, Gerson, ataupun C. Alberto yang membawa Negara Brazil jadi pemenang piala dunia di Meksiko.

Yang membedakan, jika bocah-bocah di Brazil berhenti mengejar impian, ketika sadar tidak punya kemampuan bermain sepakbola bola yang baik, namun tidak dengan Kaiser. Walaupun tidak memiliki kemampuan yang mumpuni, Kaiser tetap berambisi menggapai mimpinya, dengan cara tak biasa cenderung tak terpuji yaitu menipu.

Hebatnya, cara Kaiser berlangsung tanpa kendala berarti. Dengan menipu, Kaiser sempat dikontrak club-club besar Brazil, seperti Bangu, Flamengo, Vasco Da Gama, Palmeiras, dan club dari negara Prancis seperti Gazelec Ajaccio. Dia juga mengaku jika dirinya pernah bermain di Argentina dan USA. Kaiser sukses berkaris selama 20 tahun sebagai striker/penyerang tanpa mencetak satu gol pun! 

Kaiser sebenarnya bukan tidak punya keahlian bermain sepak bola. Saat masih remaja, Kaiser sempat berkesempatan mengikuti percobaan/trial di club Meksiko, Puebla. Tapi, karena dianggap tak layak, Kaiser pun tidak lolos seleksi.Setelah dari Meksiko inilah karir tipu-menipu ini dimulai. Pada tahun 1980-an, dia mulai membuat pertemanan dengan pemain-pemain Brazil yang sedang menanjak ketika itu. Sebut saja Romario, Bebeto, dan Ricardo Rocha.

Sering kali Kaiser mengajak rekan-rekannya pemain bintang itu di tempat-tempat hiburan malam, kafe atau kelab malamn dengan maksud agar Kaiser meminta pemain-pemain tersebut merekomendasikan dirinya ke club-club besar yang mengontrak pemain tersebut.

Tak butuh kontrak panjang. Kaiser, hanya meminta teman-temannya tersebut meyakinkan club agar mau mengontrak trial untuk beberapa bulan. Kemudian, setelah mendapatkan kontrak, Kaiser akan mengaku dia butuh 1-2 bulan untuk mengembalikan kondisinya. Jadi, bulan-bulan awal hanya akan dihabiskan dengan latihan fisik, berlari mengelilingi lapangan, tanpa menunjukan kemampuan olah bola yang dimilikinya.


Akting Yang Meyakinkan
Ketika melihat kondisi fisik Kaiser, orang memang akan percaya jika Kaiser merupakan pemain sepak bola profesional. karena, Kaiser memiliki postur tubuh yang bagus untuk seorang pemain sepak bola, postur yang sangat ideal untuk seorang pemain bola.

Ketika masa-masa latihan fisik telah selesai dan kaiser diminta berlatih dengan kemampuan dengan bola, Kaiser akan mengeluarkan jurus lainnya.Kaiser akan meminta rekannya memberinya operan. Kemudian, Kaiser menendang bola itu sangat jauh. Ketika rekannya itu kembali dari mengambil bola, kaiser akan memegangi hamstringnya dan pura-pura cedera, lewat pengakuan Kaiser pada program televisi Rede Globo, tahun 2011.

Saat itu, pemeriksaan MRI scan atau pemeriksaan pemain yang cedera dengan jalan pemindaian memang belum ada. Jadi, club harus percaya kepada Kaiser kalau dia cidera. kemudian, selama 1 bulan kaiser akan menghabiskan waktu bersama tim medis di ruang perawatan.

Di saat yag bersamaan, ketika kaiser mengaku cedera, Kaiser memanfaatkan kondisinya sebagai pemain sepak bola profesional dengan sering berpesta, menikmati dunia malam di Rio de Janeiro. Pastinya dengan pemain sepak bola lainnya. Pokoknya, Kaiser sangat menikmati statusnya sebagai pesepak bola profesional walaupun hanya status.


Hampir Terbongkar

Ketika dikontrak club Bangu, penyamaran Kaiser nyaris terbongkar. Ketika kaiser mengaku masih dalam proses "pemulihan menuju kondisi terbaiknya", pelatih saat itu memasukkan nama Kaiser dalam skuad bertanding.

Pada saat itu sang pelatih meyakinkan Kaiser bahwa dia hanya akan menjadi pemain cadangan tanpa bermain. Akan tetapi, ketika tim dalam keadaan kalah, Kaiser diminta untuk melakukan pemanasan. Kaiser sempat panik, "Jika saya bermain, maka orang-orang pasti akan mengetahui kemampuan saya, maka saya harus berpikir cepat saat itu" Ujar Kaiser.

Akhirnya, Kaiser mendapat ide. Ketika akan dimasukkan ke lapangan, Kaiser tiba-tiba menaiki pagar pembatas penonton dan langsung menyerang seorang suporter. Dia langsung diberikan kartu merah oleh wasit tanpa harus memasuki lapangan dan bermain. Kaiser "selamat".

Akan tetapi, setelah pertandingan, Kaiser dipanggil menghadap presiden klub, Castor de Andrade, yang meminta Kaiser untuk menjelaskan kenapa dia menyerang seorang suporter. Kaiser tidak kehabisan ide. Kepada Presiden club, Kaiser mengatakan kenapa dia menyerang suporter karena mereka menghina Andrade dengan sebutan pencuri. “Setelah ayah saya meninggal dunia, saya menganggap anda (Andrade, Presiden club) sebagai ayah saya, saya tidak akan pernah rela ayah saya dihina," ujar Kaiser dengan expresi sedih kepada Andrade. Sang presiden club pun langsung terharu. Niat awal akan menghukum kaiser, Sang presiden malah memberikan perpanjang kontrak selama enam bulan.


Tantangan di club Prancis

Parahnya, Kaiser menikmatinya perannya menjadi penipu. Pada tahun 1990-an, ketika banyak pemain Brazil mulai diincar club-club dari Eropa, Kaiser pun tidak mau kalah. Tidak tau bagaimana caranya, Kaiser bisa bergabung dengan salah satu club dari Prancis bernama Gazelec Ajaccio, yang saat itu bermain di Ligue 2.

Di club inilah tantangan Kaiser sesungguhnya dimulai. Pada saat latihan pertama, Homebase latihan Gazelec Ajaccio dipenuhi banyak suporter. Mereka ingin melihat langsung pemain baru yang didatang dari Brazil. Untuk club sekelas Ajaccio, kedatangan pemain asing sungguh sangat ditunggu. Apalagi pemain datang dari Negara Brazil, yang dari dulu dikenal sebaga negarai gudangnya bintang-bintang sepak bola dunia dengan skill hebat.

Oleh karena itu, Suporter Ajaccio pun sangat antusias menyambut kehadiran Kaiser. Harapan besar untuk melihat aksi-aksi hebat Kaiser pun mengisi kepala para suporter. Kondisi ini membuat Kaiser panik. Kaiser mulai memasuki lapangan dengan rasa was-was. Akan tetapi di satu sisi, dia merasa menjadi superstar sepak bola karena namanya diagung-agungkan. Akan tetapi, di sisi lain, dia khawatir penyamarannya terkuak.

Bagaimana jika seluruh suporter tahu kemampuan bermain bola kaiser yang sesungguhnya? Tapi Kaiser tidak mau merusak hari special itu. Akhirnya, dia lagi-lagi mendapatkan ide yang sangat konyol. Setelah menyapa penonton, melambaikan tangan kepada suporter, dan mencium emblem club Gazelec Ajaccio di kostumnya, Kaiser mengambil satu per satu bola yang akan digunakan untuk latihan pertama club. Satu per satu bola itu dia tendang keras ke arah suporter untuk diberikan kepada suporter dan dibawa pulang sebagai suvenir. Sampai akhirnya, seluruh bola di lapangan tak tersisa dan pelatih tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak bisa berlatih teknik atau game dengan bola dan latihan hari itu hanya digunakan untuk latihan fisik saja yang merupakan keahlian utama Kaiser. 

Itulah kisah Kaiser, dia menyambung kariernya di lapangan hijau dengan kebohongan demi kebohongan. Sampai akhirnya dia pensiun dari lapangan hijau di usia 39 tahun! Sepanjang kariernya di dunia sepak bola, selama hampir 20 tahun, Kaiser hanya bermain 12 kali sebagai pemain pengganti di Ajaccio tanpa membuat satu gol pun.

Sumber :Liputan6.com
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya